Smart, Progresif, and Transformative

selamat datang di Buletin 73, media ini sebagai informasi dan tukar pengetahuan antar sesama manusia. siapa saja yang berminat menulis ataupun memberikan suatu informasi yang bermanfaat, layangkan tulisan anda ke "buletin73@gmail.com"
salam Editorial.
(bagi yg Upload tolong tulisan yg akn di upload Rata kanan n Kiri, dan dirapikan, Editorial)
Kami bukan dewa, bukan sang pencipta, jadi kritik Kami!!!
Tampilkan postingan dengan label alfa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alfa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Juni 2008

PAHAMI ®

Isi adalah kosong, kosong adalah isi yang merupakan falsafah dharma budha yang berkembang untuk menggapai keseimbangan, zaman sekarang manusia begitu terpatri pada keinginan untuk menguasai, akibat kerakusan yang tumbuh dalam jiwa bentuk sifat hewani yang terpakai manusia, adakah kita terpikir menjaga keseimbangan dunia di mana dapat dilihat dan diterapakan dari berbagai asumsi pemaknaan angka 0 di dunia antara hitam dan putih, antara malaikat dan iblis, antara benar dan salah antara baik dan buruk, antara panjang dan pendek, antara tinggi dan rendah, antara biasa dan tidak biasa berkodratlah manusia tidak tuhan manusia tidak malaikat manusia tidak iblis atau jin manusia adalah manusia.

Harta, kuasa, merupakan impian setiap orang, wanita yang cantik, pria yang tampan, wajah yang anggun, wajah yang menarik, menjadian buruan setiap insan! apakah terpikir apa yang dilihat tidak selalu mencerminkan isinya, adakah hal-hal seperti diatas menjadi patokan yang pasti, tidak!!! Imanuel kant berkata bahwa manusia yang merdeka atau bebas adalah manusia yang bisa mengatakan tidak, bukan berarti ini adalah pembelaan diri atau pembelaan atas keadaan terkadang kita terbutakan akan kenyataan, arusnya sungai kehidupan begitu deras sehingga kita terhanyut arus yang deras, kemampuan kita untuk bertahan atas keadaan kurang!!! apakah saya dan kita semua menyadari bahwa vaksin yang dibangun jiwa sekarang telah ketinggalan zaman lemah dan hampir tidak ada gunanya, alangkah kasihan jiwa ini hujat, harapan, tangisan yang banyak kita dengar dalam dunia kaum tertinggal terpinggirkan dan yang masih mengharapan rangkulan kasih, rangkulan sejuk dari kita yang memahami dan melihat keseluruhan secara komplek karena tinjauan satu jiwa objek ternyata membawa kita kepada kesesatan jiwa.

Alam takambang jadi guru jadikanlah keberadaan alam menjadi guru jangan sekali kali bilang hal ini merupakan suatu yang bersifat tertinggal tradisional atau primitif perlu kita pahami bersama bahwa adaptasi yang paling unggul adalah adaptasi alam dan jangan menyangkal bahwa adaptasi manusia adalah adaptasi akal akalan yang nilai kontektualnya terkadang meleset, pengangkatan sifat makrokosmis berpusat pada manusia yang telah menghancurkan manusia itu sendiri seharusnya saya dan kita semua mengetahui bahwa kita hanya merupakan sel kecil yang ada diatas dunia yang ketika hilang tidak akan mempengaruhi apa-apa didunia yang luas ini jangan hanya melihat dunia adalah bumi,! begitu luas jagad raya ini.

“ Balance all brought all to your mind the year to come seemed wasted of breath a waste of breath the year behind in balance with life this death ” (jawarahal nehru)

Ini Pertanyaan Kesesatan ataukah penyesalan…..?

Hm…. Ternyata hidup adalah semu,,,
Belut agama yang menjaga ….
Ingatan akan kehidupan yang kekal setelah dunia….
Jadi acuan berjuta umat.

Kehidupan yang berjalan seperti biasanya di lereng bukit yang gersang,
Tak ada sebenarnya yang menarik,,, hanya nuansa sepi yang menjanjikan, walaupun telah memeras pikiran untuk mendapatkan sesuatu yang diimpikan, ternyata kehampaan yang tetap didapat.

Terbayang bagaimana kehidupan dimasalalu yang tidak secukup dimasa sekarang ,,,, mungkin jika kita hidup dimasa tersebut kita akan selaul membayangkan kehidupan dimas sekarang yang berkecukupan…ternyata tidak sama saja….
Pernahkah kita bertanya sebenarnya siapa dan apa tujuan kita didunia…..
Apakah benar seperti yang didogma oleh agama-agama yang kita anut,,,,
Atau itu hanya angan angan semu manusia yang direkayasa dari masa ke masa
Sehingga generasi setelahnya terlena akan janji dogma semu itu????
Wah jika itu benar……. Apa yang akan terjadi (semoga saja tidak)

Kenapa manusia selaulu merasa lapar?
Kenapa manusia diciptakan dengan mempunyai perut??
Kenapa tidak menciptakan manusia tanpa harus merasa lapar???
Dengan begitu manusia tidak perlu meributkan bebagai hal terkait dengan rasa lapar????

Kenapa manusia mempunyai akal?
Kenapa manusia harus mempunyai otak??
Kenapa tidak memciptakan manusia yang tidak berfikir menggunakan akalnya???
Dengan begitu manusia tidak akan melakukan percobaan yang mengantarkannya pada kesesatannya masing-masing????

Kenapa manusia harus di balut oleh hasrat?
Hasrat yang dapat mendatangkan malapetaka bagi dirinya sendiri dan keluarga yang mencintainya serta melindunginya dari semua ancaman…..

Apakah kita pernah menyadari hal-hal itu????

Ataukah semua itu ada, karena kita harus berfikir ! kenapa itu terjadi, ketika kita diberikan hal-hal itu????

Millennium barupun telah muncul, sudah banyak generasi yang berganti sebelum kita muncul… dan kita masih menanyakan apa eksistensi kita di dunia ini???
Kalau begitu buat apa ada generasi-generasi sebelum kita? Apakah mereka diciptakan untuk bersegama dan melahirkan generasi generasi yang akan bersegama lagi tanpa memberikan kebijakan kepada generasi setelahnya?

7 unsur kebudayaan sebagai eksistensi menurut saya

Kita tahu bahwa manusia sangat membutuhkan eksistensi didalam hidupnya. hal tersebut dapat ditinjau dari aspek – aspek yang ada pada sebuah kebudayaan diantaranya yaiu; strata sosial, pekerjaan, bahasa, kepercayaan, ilmu pengetahuan, teknologi serta kesenian. Masing-masing aspek tersebut mempunyai pengaruh satu dengan yang lainnya.
Strata sosial menurut saya merupakan pembagian kedudukan manusia didalam lingkungannya sesuai dengan keadaan masyarakat yang memandangnya. Secara general didalam masyarakat akan ditemukan perlakuan berbeda terhadap masing-masing manusia, itu adalah bentuk aturan yang ada dalam lingkungan dan merupakan bentuk dari adaptasi dengan begitu manusia akan diposisikan secara terlapis.
Pekerjaan menurut saya pekerjaan menentukan manusia menurut eksistensinya didalam lingkungan. Kecakapan manusia dalam bertindak dan bertolak ukur dalam mencapai kebutuhannya serta sikap akan menncapai keberhasilan sebuah sistem, hal itu terkait dengan penempatan unsur-unsur didalam sistem tersebut sesuai dengan bidang yang seharusnya.
Bahasa menurut saya kita dapat melihat suatu eksistensi dalam pengunaan bahasa. Pada lapisan masyarakat pengunaan intonasi atua logat serta redaksional yang berjenjang akan memperlihatkan latar belakang eksistensi manusianya sehingga dia dapat ditempatkan pada lapisannya serta manusia akan melakukan peran sosial yang sesuai dengan keberadaan eksisrensinya.
Kepercayaan menurut saya dapat dilihat secara jelas bahwa kepercayaan dapat menempatkan manusia pada eksistensinya didalam masyarakat. Tingkat pemahaman dogma serta nilai plagiat yang terdapat dalam alam pikirannya tentang nilai-nilai ajaran yang berasal dari kekuatan diluar manusia memunculkan atmosphir pada kualitas dirinya secara religi dan hal tersebut melapiskannya pada golongan yang semestinya.
Ilmu pengetahuan menurut saya akan membantu manusia dalam menemukan eksistensinya dan melapiskannya dalam kualitas masyarakat yang ada didalam lingkungannnya. Dengan pengetahuan manusia mencoba melakukan pembuktian serta mencari pembenaran versi dirinya dan mempublikasikan kepada masyarakat sehingga memunculkan idiom pada manusia lainnya.
Teknologi menurut saya teknologi dapat menemukan eksistensinya. Karena teknologi adalah hasil karya manusia yang memiliki keinginan untuk menciptakan sebuah karsa atau rasa. Hal itu bertujuan untuk mempermudah semua proses yang ingin dicapainya, namun demikian penciptaan yang dilakukan manusia lebih cenderung mengorban keberadaan lingkungannya, dalam arti memunculkan berbagai bentuk kekurangan yang ada dimuka bumi ini. Sikap dapat memgolah sumber daya dan memunculkan sesuatu yang belum dikenal oleh manusia lain akan mendatangkan bentuk eksistensi baru pada manusia tersebut
Kesenian kesenian dapat mendatangkan eksistensi pada manusia. Karena kesenian adalah sikap-sikap manis manusia yang diaktualisasikan dalam berntuk gerak yang tertata dengan seksama. Gerakan itu memunculkan hipnotis sehingga yang melihat menjaedi terkhasima serta kagum akan keindahannya. Kekaguman itu akan mengangkat nilai-nilai keberadaannya didalam lingkungan yang telah mengenalnya.

fisika quantum

Fisika quantum yang digunakan dalam analisis tasawuf agama membuat kita masuk dalam dunia baru, dimana biasanya kita selalu menerapkan sisi psikologi dan budaya secara etnograf dalam membahas ilmu-ilmu agama, bentuk hitungan matematis yang dapat menyimpulkan pengetahuan tanpa kita harus memolakan lagi, keunggulan ilmu eksak adalah dapat menuaikan suatu informasi sesuai dengan tuntutan dunia pengetahuan, suatu ruang yang meminta informasi dalam bentuk skematis dan terhitung, biasanya mahasiswa yang membentuk kelompok diskusi di dalam teritorial budaya dan sastra sangat jarang melirik ilmu eksak sebagai tinjauan dari olah pikirannya, karena kemampuannya sendiri tidak dapat menjangkau pemikiran logika kesana, manusia yang bergerak dalam budaya dan sastra adalah manusia yang dipersiapkan berdialektika dalam bentuk media bahasa! bukan hitungan! itu perbedaannya.
Jika kita melihat dimensi ruang sering sekali kita terjebak dengan zaman, dalam fisika quatum ruang didefinisikan sebagai energi yang berbentuk frekwentatif yang secara matematis mempunyai rumusan dan anak perumusannya. Didalam fisika quantum kita dapat menyatakan bentuk budaya yang terpola, bahkan kita dapat menyentuh statistik perubahan budaya yang diakibatkan gaya grafitasi dari masing-masing komunal yang ada pada masyarakat, interkolerasi yang terjadi menghasilkan dinamika sosial yang beritme, ritme yang berupa frekwensi energi yang bergerak acak, dioposisikan oleh bentuk keadaan psikologi masyarakatnya.
Sering kita menghadapai pengklutseran bentuk budaya mistik dengan budaya nalar, didalam pengetahuan budaya dan sastra dua hal tersebut merupakan budaya yang mempunyai dunia masing-masing (hal yang berbeda), lain hal jika kita tinjau dari fisika quantum, dua bentuk budaya tersebut merupakan budaya yang berkesinambungan itu dilihat dari sesuatu yang bersifat tidak bisa di telaah dengan keadaan nyata dikarena instrumennya yang berbeda akan tetapi jika kita mampu memunculkan satu hal yang mempunyai kesamaan maka dengan fisika quantum kita dapat menemukan kolersai pembentangan budaya tersebut, dalam artian bahwa ketika ada dua frekwensi yang belum mempunya klem yang mempertemukan maka hal tersebut tidak mempunyai hubungan akan tetapi jika frekwensi tersebut telah mempunyai klem maka frekwensi itu akan menjadi frekwensi yang saling menyambung, sederhana bukan itu fisika quantum.
Maka perlu diketahui dalam alquran dituliskan “Diciptakan langit dan bumi hanya untuk manusia”, alam bergerak secara sitimatika, alam mempunyai perhitungan, maka untuk memahami alam dan konsesi agama maka belajarlah berhitung, belajarlah fisika quantum!!