Smart, Progresif, and Transformative

selamat datang di Buletin 73, media ini sebagai informasi dan tukar pengetahuan antar sesama manusia. siapa saja yang berminat menulis ataupun memberikan suatu informasi yang bermanfaat, layangkan tulisan anda ke "buletin73@gmail.com"
salam Editorial.
(bagi yg Upload tolong tulisan yg akn di upload Rata kanan n Kiri, dan dirapikan, Editorial)
Kami bukan dewa, bukan sang pencipta, jadi kritik Kami!!!

Senin, 30 Juni 2008

Pajak untuk Rakyat atau Pajak yang Merakyat?

oleh : Muzaiin Arfa Satria

Sosialisasi yang kian gencar dilakukan oleh direktorat jendral pajak indonesia bisa kita lihat dimana-mana. Mulai dari iklan elektronik maupun sosialisasi terjun ke lembaga-lembaga pendidikan kampus. Sekedar mengingat tentang iklan dari Dirjen Pajak dengan motto “Apa kata dunia??” sebuah iklan yang menyesatkan dan kalau kita menganalisis secara cermat tidak ada logisme antara Pajak dan motto tersebut. Apa hubungannya antara membayar pajak dan perkataan dunia. Namun tulisan ini bukan mengkaji permasalahan iklan tersebut, hanya selayang pandang atas penggunaan bahasa dalam iklan yang akhir-akhir ini semakin menyesatkan dan tidak mendidik.

Pajak untuk Rakyat. Kata ini tepat digunakan untuk mengkaji secara fungsional dan struktural mengapa diciptakannya pajak di sebuah negara. Pajak didapatkan dari sistem perekonomian yang diciptakan oleh suatu negara dengan fungsi untuk mensejahterakan rakyat, baik itu berupa pembangunan fisik maupun non fisik. Secara garis besar pajak juga berfungsi sebagai pendapatan negara yang nantinya juga diperlukan untuk subsidi di setiap bidang yang diperlukan dalam suatu negara. Di Indonesia secara signifikan masyarakat belum dapat merasakan manfaat pajak itu untuk apa? Dan lebih parah lagi banyak yang menanyakan sebenarnya pajak itu berguna atau tidak. Ini disebabkan kurangnya pengetahuan mengenai pajak dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap perpajakan di Indonesia sendiri. Kurangnya pengetahuan dan ketidakpercayaan nantinya akan menimbulkan ketidaksadaran maupun acuh tak acuh akan pajak tersebut. Ketidakpercayaan ini disebabkan oleh sifat-sifat manusia sendiri akan sebuah pandangan mengenai objek yang dilihatnya, seperti misalnya manusia tidak percaya akan sebuah bahaya merokok karena manusia (konsumen rokok) belum merasakan dampak dari bahaya nikotin yang langsung dirasakan, atau misalnya manusia yang terkena paku dikakinya lantas dia berkata “aduh” merasakan sakit bukan kepalang, yang kemudian manusia tersebut akan lebih berhati-hati dalam berjalan dengan menggunakan alas kaki. Ilustrasi diatas secara esensi mengemukakan bahwa untuk mencapai kesadaran akan sesuatu hal, manusia harus merasakan sendiri baik berbentuk pengalaman, pencarian (keingintahuan) ataupun secara reflektif. Dalam konteks pajak, dimana pertanyaan yang muncul adalah bagaimana menciptakan masyarakat yang sadar akan pajak, perlu adanya kesadaran yang mendorong seseorang untuk membayar pajak, baik itu dorongan dari pemerintah sendiri dan juga manusianya itu sendiri. Perlu adanya penekanan bahwa pajak dari rakyat untuk rakyat, bukan dari rakyat untuk kepentingan rakyat. Mengapa demikian, karena paradigma kepentingan rakyat cenderung bersifat suatu golongan atau kelompok, berbeda jika itu “untuk rakyat” kata ini cenderung bersifat universal dan menyeluruh. Ini sangatlah penting untuk menciptakan kesadaran pajak di masyarakat, memang ini hanya permasalahan teks bahasa namun hal ini juga merupakan suatu pola-pola untuk merubah paradigma yang muncul di masyarakat dewasa ini.

Pajak yang Merakyat. Seperti yang kita rasakan pajak di Indonesia merakyat sekali, hal ini dimaksudkan adalah pajak di Indonesia hampir di setiap sektor kehidupan tidak luput dari perpajakan. Dari dalam kandungan hingga seseorang nantinya meninggal dunia bisa dikatakan diselimuti pajak dalam kehidupannya. Dimulai dari biaya rumah bersalin dan perawatan yang terkena pajak maupun nantinya jika seseorang meninggal dunia baik proses pemakaman dan penggunaan lahan untuk makam. Yang lebih anehnya lagi adalah pajak 10% atupun lebih untuk setiap makanan, tempat hiburan, tempat makan, dll, yang dibebankan kepada konsumen. Jika kita kritisi terasa aneh mengapa hal tersebut dibebankan kepada konsumen tidak dibebankan saja kepada perusahaan yang mengelolanya. Sebagai ilustrasi “ seseorang yang makan di sebuah kafe yang dikenakan pajak 10% dengan rincian biaya makanan Rp. 50.000 dan pajak 10% dari 50.000 = 5000, jadi dia harus membayar Rp. 55.000 pada kafe tersebut. Mengapa harus dibebankan kepada konsumen pajak tersebut, toh yang di untungkan adalah kafe, seharusnya pemerintah mebebankan saja kepada kafe tersebut. Memang dalam sistem perpajakan kita adanya 2 batasan pajak, yaitu pajak daerah dan pajak pusat (nasional). Namun mengapa beban pajak yang dirasakan masyarakat secara tidak disadari ada dimana-mana. Seharusnya ada batasan-batasan yang jelas antara pajak individu dan pajak perusahaaan, karena beban yang dirasakan oleh individu oleh pajak sangatlah banyak, pajak pendapatan, pajak izin mendirikan bangunan (IMB), pajak tanah, pajak tahunan, pajak kendaraan bermotor, dll. Sangat banyak dan merakyat! Batasan pajak konsumen seharusnya di prioritaskan hanya kepada produsen ataupun perusahaannya saja. Karena pajak yang merakyat dan memiliki kecenderungan tumpang tidih memiliki aspek negatif bagi masyrakat sendiri.

Modernisasi Perpajakan. Dalam sosialisasi yang dilakukan oleh dirjen pajak mengemukakan adanya sebuah modernisasi secara struktural, perubahan yang diciptakan adalah sentralisasi pembayaran pajak, dan dengan munculnya respensitatif yang disediakan oleh perpajakan. Memang ini merupakan suatu kemajuan biokrasi di perpajakan yang dulunya sangat berbelit-belit. Adanya pajak online juga sangat membantu dalam mempermudah registrasi NPWP dan info-info pajak lainnya. Namun menurut pendapat penulis, modernisasi bukan hanya pada permasalahan material saja namun hal-hal non material juga harus di ubah. Secara fungsional tugas Dirjen pajak hanya sebatas mengumpulkan biaya untuk anggaran pemerintah, namun secara detail kemana biaya dikeluarkan dan kegunaannya untuk apa, perpajakan tidak mengetahuinya. Karena adanya departemen anggaran dan lain sebagainnya. Seharusnya perpajakan dalam modernisasi perpajakan perlu adanya wewenang yang lebih dari hanya mengumpulkan pajak sendiri, memang cukup sulit. Ini diperlukan untuk sosialisasi yang genjar dilakukan oleh perpajakan, sosialisasi bukan hanya bagaimana menumbuhkan kesadaran tapi ada feedback dari perpajakan dengan pengetahuan alokasi secara detail kemana pajak tersebut dikucurkan. Sebenarnya ini sangatlah penting untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap pajak. Seperti yang dikemukakan diatas bahwa pajak memang untuk rakyat, dan janganlah pajak saja yang merakyat!

Kamis, 19 Juni 2008

PAHAMI ®

Isi adalah kosong, kosong adalah isi yang merupakan falsafah dharma budha yang berkembang untuk menggapai keseimbangan, zaman sekarang manusia begitu terpatri pada keinginan untuk menguasai, akibat kerakusan yang tumbuh dalam jiwa bentuk sifat hewani yang terpakai manusia, adakah kita terpikir menjaga keseimbangan dunia di mana dapat dilihat dan diterapakan dari berbagai asumsi pemaknaan angka 0 di dunia antara hitam dan putih, antara malaikat dan iblis, antara benar dan salah antara baik dan buruk, antara panjang dan pendek, antara tinggi dan rendah, antara biasa dan tidak biasa berkodratlah manusia tidak tuhan manusia tidak malaikat manusia tidak iblis atau jin manusia adalah manusia.

Harta, kuasa, merupakan impian setiap orang, wanita yang cantik, pria yang tampan, wajah yang anggun, wajah yang menarik, menjadian buruan setiap insan! apakah terpikir apa yang dilihat tidak selalu mencerminkan isinya, adakah hal-hal seperti diatas menjadi patokan yang pasti, tidak!!! Imanuel kant berkata bahwa manusia yang merdeka atau bebas adalah manusia yang bisa mengatakan tidak, bukan berarti ini adalah pembelaan diri atau pembelaan atas keadaan terkadang kita terbutakan akan kenyataan, arusnya sungai kehidupan begitu deras sehingga kita terhanyut arus yang deras, kemampuan kita untuk bertahan atas keadaan kurang!!! apakah saya dan kita semua menyadari bahwa vaksin yang dibangun jiwa sekarang telah ketinggalan zaman lemah dan hampir tidak ada gunanya, alangkah kasihan jiwa ini hujat, harapan, tangisan yang banyak kita dengar dalam dunia kaum tertinggal terpinggirkan dan yang masih mengharapan rangkulan kasih, rangkulan sejuk dari kita yang memahami dan melihat keseluruhan secara komplek karena tinjauan satu jiwa objek ternyata membawa kita kepada kesesatan jiwa.

Alam takambang jadi guru jadikanlah keberadaan alam menjadi guru jangan sekali kali bilang hal ini merupakan suatu yang bersifat tertinggal tradisional atau primitif perlu kita pahami bersama bahwa adaptasi yang paling unggul adalah adaptasi alam dan jangan menyangkal bahwa adaptasi manusia adalah adaptasi akal akalan yang nilai kontektualnya terkadang meleset, pengangkatan sifat makrokosmis berpusat pada manusia yang telah menghancurkan manusia itu sendiri seharusnya saya dan kita semua mengetahui bahwa kita hanya merupakan sel kecil yang ada diatas dunia yang ketika hilang tidak akan mempengaruhi apa-apa didunia yang luas ini jangan hanya melihat dunia adalah bumi,! begitu luas jagad raya ini.

“ Balance all brought all to your mind the year to come seemed wasted of breath a waste of breath the year behind in balance with life this death ” (jawarahal nehru)

Ini Pertanyaan Kesesatan ataukah penyesalan…..?

Hm…. Ternyata hidup adalah semu,,,
Belut agama yang menjaga ….
Ingatan akan kehidupan yang kekal setelah dunia….
Jadi acuan berjuta umat.

Kehidupan yang berjalan seperti biasanya di lereng bukit yang gersang,
Tak ada sebenarnya yang menarik,,, hanya nuansa sepi yang menjanjikan, walaupun telah memeras pikiran untuk mendapatkan sesuatu yang diimpikan, ternyata kehampaan yang tetap didapat.

Terbayang bagaimana kehidupan dimasalalu yang tidak secukup dimasa sekarang ,,,, mungkin jika kita hidup dimasa tersebut kita akan selaul membayangkan kehidupan dimas sekarang yang berkecukupan…ternyata tidak sama saja….
Pernahkah kita bertanya sebenarnya siapa dan apa tujuan kita didunia…..
Apakah benar seperti yang didogma oleh agama-agama yang kita anut,,,,
Atau itu hanya angan angan semu manusia yang direkayasa dari masa ke masa
Sehingga generasi setelahnya terlena akan janji dogma semu itu????
Wah jika itu benar……. Apa yang akan terjadi (semoga saja tidak)

Kenapa manusia selaulu merasa lapar?
Kenapa manusia diciptakan dengan mempunyai perut??
Kenapa tidak menciptakan manusia tanpa harus merasa lapar???
Dengan begitu manusia tidak perlu meributkan bebagai hal terkait dengan rasa lapar????

Kenapa manusia mempunyai akal?
Kenapa manusia harus mempunyai otak??
Kenapa tidak memciptakan manusia yang tidak berfikir menggunakan akalnya???
Dengan begitu manusia tidak akan melakukan percobaan yang mengantarkannya pada kesesatannya masing-masing????

Kenapa manusia harus di balut oleh hasrat?
Hasrat yang dapat mendatangkan malapetaka bagi dirinya sendiri dan keluarga yang mencintainya serta melindunginya dari semua ancaman…..

Apakah kita pernah menyadari hal-hal itu????

Ataukah semua itu ada, karena kita harus berfikir ! kenapa itu terjadi, ketika kita diberikan hal-hal itu????

Millennium barupun telah muncul, sudah banyak generasi yang berganti sebelum kita muncul… dan kita masih menanyakan apa eksistensi kita di dunia ini???
Kalau begitu buat apa ada generasi-generasi sebelum kita? Apakah mereka diciptakan untuk bersegama dan melahirkan generasi generasi yang akan bersegama lagi tanpa memberikan kebijakan kepada generasi setelahnya?

7 unsur kebudayaan sebagai eksistensi menurut saya

Kita tahu bahwa manusia sangat membutuhkan eksistensi didalam hidupnya. hal tersebut dapat ditinjau dari aspek – aspek yang ada pada sebuah kebudayaan diantaranya yaiu; strata sosial, pekerjaan, bahasa, kepercayaan, ilmu pengetahuan, teknologi serta kesenian. Masing-masing aspek tersebut mempunyai pengaruh satu dengan yang lainnya.
Strata sosial menurut saya merupakan pembagian kedudukan manusia didalam lingkungannya sesuai dengan keadaan masyarakat yang memandangnya. Secara general didalam masyarakat akan ditemukan perlakuan berbeda terhadap masing-masing manusia, itu adalah bentuk aturan yang ada dalam lingkungan dan merupakan bentuk dari adaptasi dengan begitu manusia akan diposisikan secara terlapis.
Pekerjaan menurut saya pekerjaan menentukan manusia menurut eksistensinya didalam lingkungan. Kecakapan manusia dalam bertindak dan bertolak ukur dalam mencapai kebutuhannya serta sikap akan menncapai keberhasilan sebuah sistem, hal itu terkait dengan penempatan unsur-unsur didalam sistem tersebut sesuai dengan bidang yang seharusnya.
Bahasa menurut saya kita dapat melihat suatu eksistensi dalam pengunaan bahasa. Pada lapisan masyarakat pengunaan intonasi atua logat serta redaksional yang berjenjang akan memperlihatkan latar belakang eksistensi manusianya sehingga dia dapat ditempatkan pada lapisannya serta manusia akan melakukan peran sosial yang sesuai dengan keberadaan eksisrensinya.
Kepercayaan menurut saya dapat dilihat secara jelas bahwa kepercayaan dapat menempatkan manusia pada eksistensinya didalam masyarakat. Tingkat pemahaman dogma serta nilai plagiat yang terdapat dalam alam pikirannya tentang nilai-nilai ajaran yang berasal dari kekuatan diluar manusia memunculkan atmosphir pada kualitas dirinya secara religi dan hal tersebut melapiskannya pada golongan yang semestinya.
Ilmu pengetahuan menurut saya akan membantu manusia dalam menemukan eksistensinya dan melapiskannya dalam kualitas masyarakat yang ada didalam lingkungannnya. Dengan pengetahuan manusia mencoba melakukan pembuktian serta mencari pembenaran versi dirinya dan mempublikasikan kepada masyarakat sehingga memunculkan idiom pada manusia lainnya.
Teknologi menurut saya teknologi dapat menemukan eksistensinya. Karena teknologi adalah hasil karya manusia yang memiliki keinginan untuk menciptakan sebuah karsa atau rasa. Hal itu bertujuan untuk mempermudah semua proses yang ingin dicapainya, namun demikian penciptaan yang dilakukan manusia lebih cenderung mengorban keberadaan lingkungannya, dalam arti memunculkan berbagai bentuk kekurangan yang ada dimuka bumi ini. Sikap dapat memgolah sumber daya dan memunculkan sesuatu yang belum dikenal oleh manusia lain akan mendatangkan bentuk eksistensi baru pada manusia tersebut
Kesenian kesenian dapat mendatangkan eksistensi pada manusia. Karena kesenian adalah sikap-sikap manis manusia yang diaktualisasikan dalam berntuk gerak yang tertata dengan seksama. Gerakan itu memunculkan hipnotis sehingga yang melihat menjaedi terkhasima serta kagum akan keindahannya. Kekaguman itu akan mengangkat nilai-nilai keberadaannya didalam lingkungan yang telah mengenalnya.

fisika quantum

Fisika quantum yang digunakan dalam analisis tasawuf agama membuat kita masuk dalam dunia baru, dimana biasanya kita selalu menerapkan sisi psikologi dan budaya secara etnograf dalam membahas ilmu-ilmu agama, bentuk hitungan matematis yang dapat menyimpulkan pengetahuan tanpa kita harus memolakan lagi, keunggulan ilmu eksak adalah dapat menuaikan suatu informasi sesuai dengan tuntutan dunia pengetahuan, suatu ruang yang meminta informasi dalam bentuk skematis dan terhitung, biasanya mahasiswa yang membentuk kelompok diskusi di dalam teritorial budaya dan sastra sangat jarang melirik ilmu eksak sebagai tinjauan dari olah pikirannya, karena kemampuannya sendiri tidak dapat menjangkau pemikiran logika kesana, manusia yang bergerak dalam budaya dan sastra adalah manusia yang dipersiapkan berdialektika dalam bentuk media bahasa! bukan hitungan! itu perbedaannya.
Jika kita melihat dimensi ruang sering sekali kita terjebak dengan zaman, dalam fisika quatum ruang didefinisikan sebagai energi yang berbentuk frekwentatif yang secara matematis mempunyai rumusan dan anak perumusannya. Didalam fisika quantum kita dapat menyatakan bentuk budaya yang terpola, bahkan kita dapat menyentuh statistik perubahan budaya yang diakibatkan gaya grafitasi dari masing-masing komunal yang ada pada masyarakat, interkolerasi yang terjadi menghasilkan dinamika sosial yang beritme, ritme yang berupa frekwensi energi yang bergerak acak, dioposisikan oleh bentuk keadaan psikologi masyarakatnya.
Sering kita menghadapai pengklutseran bentuk budaya mistik dengan budaya nalar, didalam pengetahuan budaya dan sastra dua hal tersebut merupakan budaya yang mempunyai dunia masing-masing (hal yang berbeda), lain hal jika kita tinjau dari fisika quantum, dua bentuk budaya tersebut merupakan budaya yang berkesinambungan itu dilihat dari sesuatu yang bersifat tidak bisa di telaah dengan keadaan nyata dikarena instrumennya yang berbeda akan tetapi jika kita mampu memunculkan satu hal yang mempunyai kesamaan maka dengan fisika quantum kita dapat menemukan kolersai pembentangan budaya tersebut, dalam artian bahwa ketika ada dua frekwensi yang belum mempunya klem yang mempertemukan maka hal tersebut tidak mempunyai hubungan akan tetapi jika frekwensi tersebut telah mempunyai klem maka frekwensi itu akan menjadi frekwensi yang saling menyambung, sederhana bukan itu fisika quantum.
Maka perlu diketahui dalam alquran dituliskan “Diciptakan langit dan bumi hanya untuk manusia”, alam bergerak secara sitimatika, alam mempunyai perhitungan, maka untuk memahami alam dan konsesi agama maka belajarlah berhitung, belajarlah fisika quantum!!



Jumat, 13 Juni 2008

Sorot

“Hadapilah dengan senyuman semua yang terjadi biar terjadi,

Hadapi dengan tenang jiwa semua akan baik-baik saja…”.(Dhani Ahmad)

2 juli 2007 hari pemberangkatan KKN tematik unit 73 di berangkatkan ke lokasi tepatnya di dusun puton desa trimulyo kecamatan jetis kabupaten bantul Yogyakarta. KKN unit ini mengusung tema mengenai prasarana fisik, baik itu berupa perbaikan maupun pembangunan fasiltas umum. Fasilitas umum yang dimaksud adalah segala sesuatu hal yang berkaitan dengan kepentingan besama, misalnya WC umum, Masjid, jalan dusun, dll, semua berkaitan dengan kepentingan masyarakat yang sifatnya dapat bermanfaat demi kelangsungan hidup bersama dan bermasyarakat. Desa puton merupakan salah satu tempat yang dilanda bencana gempa bumi dari kabupaten bantul. Kerusakan prasarana fisik masih terlihat di desa puton ini terlebih mengenai fasilitas umum, namun tingkat kerja keras dan inisiatif swadaya masyrakat yang tinggi yang membuat masyrakat tidak bermanja-manja dalam menghadapi masalah akibat pasca gempa. Kehidupan masyarakat puton sangat bersahabat dan memiliki semangat gotong royong yang tinggi, ini terlihat dari beberapa kegiatan masyrakat yang saling tolong menolong dan menyelesaikan sesuatu secara musyawarah dan kekeluargaan. Kita tak harus terjebak dalam ketakutan yang ada, ketakutan hanyalah bayang-bayang yang sangat menakutkan kita harus bangkit dari ketepurukan yang ada, itulah semangat yang dibangun di desa puton, semangat untuk bangkit.

Observasi dan Identifikasi permasalahan

“Optimalkan pikiranmu, lihat, dengar dan rasakan apa yang ada dihadapanmu”.

Seminggu telah kita melakukan observasi dan mengidentifikasi permasalahan yang ada di desa puton, dari tiap-tiap sub unit telah melakukan survei dan wawancara terhadap pengurus RT maupun langsung interaksi dengan warga. Banyak hasil-hasil yang di dapat dari observasi yang berguna untuk menentukan program yang akan kita buat. Namun yang menjadi pertanyaan apakah observasi itu mutlak keinginan masyarakat atau ada unsur subjektifitas dalam penentuan permasalahan. Teori yang didapatkan dari akademik universitas belum tentu sama aplikasinya dengan yang ada dilapangan, KKN adalah suatu bentuk aplikasi civitas akademik untuk menerapkan ilmu yang didapat dalam pemberdayaan masyarakat, disinilah kita belajar bagaimana bersosialisasi dan berinteraksi dengan masyarakat.

Kejelasan dana

Dari rapat forum besar yang diadakan pada hari Selasa, 10 Juli 2007 yang direncanakan dimulai pada pukul 13.00 tapi sepertinya waktu kita sendiri yang mengatur, bukannya kita yang diatur waktu, sehingga rapat forum dimulai pada pukul 13.45. Dalam diskusi forum telah di temukan titik terang bahwa dana pihak sponsor pasti turun, dan kesepakatan yang diambil bahwa dana tersebut di bagi rata antar sub unit dan mendapatkan Rp.1.250.000/sub unit dengan perincian Rp.1.000.000 dialokasikan sub unit dan Rp.250.000 dikembalikan ke unit sebagai dana cadangan yang berguna untuk program lainnya.

Kemudian mengenai kejelasan dana transport telah disepakati bahwa sisa dana tersebut akan dialokasikan untuk acara kita dan untuk kita, seperti misalnya perpisahan KKN, ataupun memberikan kado untuk acara perpisahan. Dana khusus program untuk program, dana yg diperuntukan buat kita untuk kita. Dalam forum yang diadakan selasa siang tersebut juga menawarkan kepada teman teman unit untuk mengikuti training manajemen bencana yang di adakan oleh LSM Muslim Aid. (malaikat_kiri)

Kebenaran yang Terdistorsi oleh Tawa.

Apakah pangeran benar-benar jatuh hati dengan ratu?

Tak terasa telah seminggu kita menginjak bumi Bantul ini bersama kawan-kawan KKN. Berbagai kegiatan telah kita jajaki. Mulai observasi, menentukan tema kegiatan, bersenda gurau dengan warga, dsb. Senang, susah dan lelah telah kita rasai dengan peluh keringat yang membasahi raga kita.

Lalu apa yang menjadi selingan dari kegiatan KKN ini? Basi mungkin bila kita mengatakan yang telah disebutkan diatas, karena kita semua merasakan itu semua. Tetapi yang menjadi menarik adalah fenomena ‘cinta lokasi’.

Selentingan kabar mengenai adanya ketertarikan dengan sesama rekan KKN merupakan sedikit ‘bumbu’ dari dua bulan yang akan penuh perjuangan ini. Mungkin kawan-kawan sering mendengar panggilan ‘pangeran’ dan ‘ratu’ dari pegiat KKN yang lain. Asumsi dari pegiat yang mengetahui fenomena ini mengatakan, pangeran adalah seorang yang kesepian tanpa memiliki kekasih. Lalu ratu adalah seorang gadis terpilih dan beruntung yang menjadi pujaan hati sang pangeran. Tetapi apakah hal ini adalah sebuah kenyatan? Masih menjadi sebuah tanda tanya besar bagi rekan bulletin73.

Menjadi suatu fenomena tanpa menangkap nomena—inti fenomena—apabila kita melihat kejadian ini sebagai suatu hal yang layak untuk kita perbincangkan disela sarapan pagi. Wacana-wacana demikian menjadi semakin absurd dengan tidak adanya kejelasan dari pegiat KKN yang sering tertawa tidak jelas mengenai pangeran.

Seiring berlalunya waktu, kebenaran kabar tersebut mulai terkuak melalui pengungkapan dari sang pangeran sendiri. “Itu hanya sebagai candaan kawan-kawan satu pondok saja, karena memang para penghuni pondok tersebut adalah anak-anak yang suka bersenda gurau” pengakuan pangeran.

Mungkin memang benar adanya apa yang disampaikan oleh pangeran. Setelah rekan-rekan bulletin73 selidiki, pegiat KKN yang ada di pondokan tersebut merupakan sekumpulan ‘orang’ yang suka sekali bercanda, bahkan mungkin bisa jadi kelewatan bercandanya.

Lalu siapakah pangeran dan ratu tersebut? Mungkin akan lebih baik menjadi rahasia saja agar tidak merugikan berbagai pihak. Pun demikian tanggapan pangeran, “biar menjadi rahasia kami saja, karena kasihan dengan pihak yang terkait—baca ratu. Saya sih tidak masalah, karena saya tahu, teman-teman saya tidak benar mengenai hal tersebut, tetapi tidak demikian dengan dia” ungkap pangeran.

Menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa tidak selamanya keadaan umum sebanding lurus dengan kenyataan yang ada. Janganlah menggunakan rasio dengan logika terbalik bila menerima segala informasi. ‘Kunyahlah’ informasi, identifikasi , lalu telanlah apabila informasi itu telah keluar dari sang ‘korban’. Karena memang kebenaran bukanlah fenomena yang berkeliaran didunia ini. Tetapi kebenaran adalah nomena dari realitas dunia yang abstrak ini. Salam hangat. [Romo&Rambo]